Home > Opini si tirta priambadha > Guratan Duka Bhinneka Tunggal Ika

Guratan Duka Bhinneka Tunggal Ika

Indonesia sudah dikenal sebagai negara multikultural. Negara dengan 396 suku bangsa, 118 bahasa daerah, 6 agama nasional, dan ratusan budaya yang di miliki masing-masing daerah di Indonesia menobatkan Indonesia sebagai negara yang kaya secara bentang alam dan bentang budaya. Klasifikasi budaya tersebut seperti lagu daerah, tarian daerah, rumah dan baju adat, senjata tradisional, dan alat-alat musik daerah. Didukung dengan banyaknya bangunan peninggalan sejarah seperti candi maupun kenampakan alam seperti danau maupun gunung yang sangat  menggoda mata siapa saja yang menyaksikannya. ‘Indonesia adalah negara yang sangat kaya dan sangat potensial. Tidak hanya dari bentang alam dan bentang budaya saja, tetapi juga kemajemukan sosialnya yang tergolong stabil,’ ujar Ibu Mari Elka Pangestu, Menteri Perdagangan Indonesia pada wawancara di TVOne, Minggu (12/6). Banyak turis asing yang mengakui bahwa kemajemukan sosial masyarakat Indonesia patut di acungi jempol, karena semua agama hidup berdampingan dengan penuh toleransi dan tenggang rasa.

Sebelum berbicara lebih jauh mengenai multikulturalisme di Indonesia, sejenak kita kilas balik mengenai hakikat multikulturalisme sebenarnya. Multikulturalisme, berarti belajar hidup bersama dalam perbedaan. Sosialisasi yang terjadi tidak mudah, karena menyatukan pandangan dalam perbedaan seperti mencari ikan di pusaran air, hampir mustahil. Maka berbagai cara terjalin dalam menyatukan perbedaan tersebut, sebut saja interseksi, asimilasi, dan akulturasi. Masyarakat yang harmonis tidak mungkin tercapai jika tidak memiliki kesamaan pandangan.

Perbedaan ini sudah terjalin sejak awal zaman sejarah di Indonesia. Perdagangan adalah salah satu saluran masuknya budaya asing ke Indonesia, yang menjadi awal perubahan. Masyarakat Indonesia perlahan membuka diri dan menyesuaikan dengan para pedagang yang kebanyakan berasal dari Arab, Gujarat, Cina, dan India. Masuk dan berkembangnya agama di Indonesia juga tidak terlepas dari jasa para pedagang. Awal penjajahan juga diawali dengan perdagangan bangsa asing ke Indonesia. Tidak heran jika Indonesia kaya akan suku bangsa serta budaya.

Para pejuang dan pendiri republik ini sangat menyadari kondisi rakyat yang majemuk. Di awal perjuangan menuju kemerdekaan, gerakan yang dilakukan untuk mengusir penjajah masih bersifat kedaerahan. Bangsa kita belum bersatu, yang diutamakan hanya tujuan kedaerahan saja. Para intelek pun belum merata ada di setiap daerah. Sehingga perlawanan yang dilakukan hanya mengandalkan senjata tanpa taktik dan strategi yang matang. Media komunikasi pun tidak sebanyak sekarang. Tapi dengan semangat tinggi dan keyakinan bahwa Indonesia bisa bersatu, para perintis negara perlahan menggagas gerakan anti penjajah demi memerdekakan negara ini sehingga menjadi gerakan perlawanan berskala nasional.

Ketika proklamasi dikumandangkan, rakyat Indonesia bersatu padu bersorak merayakan kemerdekaan. Pancasila sebagai falsafah hidup dan kepribadian bangsa dan UUD 1945 sebagai dasar hukum tertinggi disahkan. Semboyan negara pun dibangkitkan. ‘Bhinneka Tunggal Ika! Bersatu kita teguh, bercerai kita runtuh!’, begitulah bunyinya. Semboyan ini menyatukan bangsa sehingga kuat dan bisa mencapai kemerdekaan bersama. Sumpah Pemuda juga turut menjadi media pengakraban muda mudi Indonesia. Para pendiri negara menelurkan semboyan ini karena mereka menyadari persatuan adalah hal yang mutlak dan harus di capai jika ingin mendirikan negara dan juga menjadi syarat berdirinya suatu negara.

Jumlah penduduk di tanah air selalu mencapai angka yang fantastis. Menurut data BPS (Badan Pusat Statistik) tahun 2010, jumlah penduduk Indonesia sebanyak 237.556.363 juta jiwa. Indonesia menempati urutan ke- 4 di dunia untuk kategori negara dengan penduduk terbesar di dunia. Angka ini menorehkan banyak aspek bagi Indonesia sebagai negara yang strategis. Ada 6 aspek kehidupan manusia yang termasuk dalam makna strategis, yaitu aspek sosial-ekonomi, sosial-politik, sosial-budaya, sosial-religius, moralitas, dan lingkungan hidup. Bukan Indonesia namanya jika tak memiliki sederet prestasi, karena negara kita dijuluki sebagai ‘Zamrud Khatulistiwa’.

Ibu pertiwi selalu memiliki kategori yang mampu memberi predikat mengagumkan bagi dunia internasional dari segala aspek. Tetapi, tidak selalu kategori yang baik yang ditorehkan tanah air kita. Kita juga memiliki sungai terkotor di dunia, koruptor, angka perokok ke- 3 terbesar di dunia, dan banyak lagi yang mengimbangi prestasi cemerlang Indonesia. Tentu saja masyarakat yang sangat besar jumlahnya menjadi pelaku utama atas semua baik buruknya prestasi yang kita punya.

Besarnya angka yang mampu dirogoh oleh Indonesia memiliki arti 2 arah, kebaikan dan keburukan. Kebaikannya antara lain, Tuhan memberikan kita sumber daya alam yang melimpah seimbang dengan jumlah penduduk yang besar. Tetapi akibat rasa tidak pernah puas dan serakah yang dimiliki manusia, sumber daya tersebut di eksploitasi habis-habisan sehingga kita menjadi kekurangan. Keburukan yang ditemui di masyarakat adalah kemalasan akibat terbuai oleh limpahan sumber daya yang ada. Mental masyarakat yang terkesan masih ‘terjajah’ oleh kebiasaan zaman pra-kemerdekaan yang harus selalu di perintah dan tidak terbiasa menabung karena semua harus diberikan kepada penjajah. Sehingga, persiapan dan perencanaan rakyat tidak dapat terlaksana karena kekurangan, dan satu lagi, tidak displin dalam mencapai target.

Multikulturalisme, jumlah penduduk, dan bhinneka tunggal ika memiliki korelasi dan sangat erat hubungannya. Multikulturalisme terwujud dengan besarnya jumlah penduduk dan dapat di kendalikan dengan bhinneka tunggal ika. Beginilah korelasi ketiganya. Namun, apa yang terjadi jika bhinneka tunggal ika tidak memiliki kedudukan di masyarakat? Seperti yang sedang marak belakangan ini, sangat banyak gerakan separatisme yang muncul. Tidak hanya gerakan yang dirintis setelah kemerdekaan, tetapi juga lanjutan gerakan separatisme dari zaman pra-merdeka! Sungguh berwarna Indonesia ini. Pemikiran yang muncul dari paham yang salah dimengerti.

Membahas gerakan separatisme terkait bhinneka tunggal ika dan NKRI menjadi problematika pelik, dan tidak mudah dipahami semua orang. Distribusi pemahaman akan kemerdekaan, demokrasi, dan rasa persatuan tidak rata dan tidak bisa di samaratakan, karena perbedaan pemahaman tidak bisa dihindarkan. Setiap individu yakin bahwa merekalah yang terbaik, dan pendapat mereka yang paling benar. Benar ini logis, kembali kepada sifat dasar manusia yang tidak pernah puas. Manusia akan terus memperbaharui dirinya, dan setiap individu ingin mempunyai kekuasaan, penghargaan, dan kekayaan. Jika 3 hal ini tidak seimbang dengan rasa nasionalisme, maka ketiga hal ini menjadi zat aditif dan menginfeksi para pelopor maupun pelaku gerakan separatisme. Ketika NKRI di pertaruhkan, apa pembelaan kita demi mempertahankan nusantara?

Isu ‘panas’ yang intens berhembus di Indonesia saat ini adalah konflik SARA, terutama agama. Bagian timur nusantara kerap sekali dikabarkan sedang bertikai karena terkuburnya toleransi antar umat beragama. Perkembangan konflik ini sangat gesit, sehingga di penjuru nusantara sedang ‘pesta’ konflik antar agama. Penyebabnya hanya bagaikan bulir jeruk, terlalu kecil dan seharusnya tidak perlu bermetamorfosa menjadi konflik. Setiap ummat menganggap agama mereka adalah yang terbaik. Hakikatnya semua agama di dunia ini mengajarkan kebaikan. Maka mengapa kita harus memaksakan agama kita kepada orang lain? Apakah harus kita rusak keseimbangan masyarakat dalam hal toleransi beragama yang sudah terjalin selama ini? Agama bukan untuk di paksakan, tetapi untuk dianut sehingga manusia memiliki pegangan hidup untuk terus berusaha, berdoa, dan berbuat baik demi hidupnya diberkahi Tuhan kemudian di akhirat nanti balasannya adalah surga.

Manusia tidak pernah luput dari salah dan khilaf karena Tuhan menciptakan manusia dengan berbagai kelebihan serta kekurangan. Ada kalanya pernyataan terucap dari seseorang yang cenderung menjelekkan agama lain, karena merasa terganggu dengan aktivitas agama tersebut. Sewajarnya, pengucap pernyataan tersebut memohon maaf dan bagi yang mendengar menanggapinya dengan kepala dingin. Dengan begitu, tidak perlu toleransi digadaikan dengan konflik. Atmosfer yang saat ini kita hirup hanya karena ego massal yang dipicu rasa marah. Jika rasa marah yang terlebih dahulu hadir, maka itikad untuk mencari awal maupun kronologis permasalahan akan absen karena kemarahan menutupi kerasionalan logika manusia.

Menurut Soejono Sukanto, kemarahan sangat mudah muncul, terutama jika kemarahan tersebut terjadi dalam skala kelompok yang menyangkut orang banyak. Jumlah individu yang besar dalam konflik antarkelompok memicu adanya tindakan radikal. Di saat tindakan radikal terjadi, maka lingkungan sekitar akan menjadi korban pelampiasan kemarahan massa. Tak jarang kita mendengar kerusakan akibat amuk massa yang mencapai angka puluhan hingga ratusan juta, bahkan menelan korban jiwa! Ironis sekali paras pertiwi yang elok tersayat konflik antar agama. Keretakan tidak perlu menyapu keharmonisan persatuan bangsa ini.

Disaat konflik SARA perlahan pudar, muncul terorisme di bumbui gerakan separatisme. Lagi-lagi berbasiskan agama. Agama yang cukup diekspos dan merugikan umat yang tidak terlibat adalah Islam. Cakupannya tidak hanya nasional, tetapi juga internasional. Maka terciptalah persamaan dari terorisme ini yaitu Islam=teroris. Bahkan sampai diproduksinya film Bollywood yang berjudul ‘My Name Is Khan’ yang bertujuan untuk membuka mata dunia bahwa Islam bukanlah teroris. Paham jihad yang amat sangat salah dan menjadi dasar terorisme berbumbukan gerakan separatisme adalah menghalalkan segala cara demi mewujudkan negara-negara Islam. Yang terparah yaitu membunuh setiap yang mengganggu realisasi tujuan mereka! Radikalisme gila dan sangat tidak bermoral.

Kita tidak asing mendengar GAM (Gerakan Aceh Merdeka) dan yang sedang marak yaitu NII (Negara Islam Indonesia). Kedua gerakan separatisme memiliki 2 kesamaan. Pertama, merupakan gerakan yang dirintis sejak kemerdekaan. Kedua, memiliki tujuan yang sama yaitu untuk mendirikan negara Islam. Dua gerakan ini hanya segelintir dari banyaknya gerakan separatis yang ada. Tetapi kedua gerakan ini sulit diredam karena tidak mengakui bhinneka tunggal ika. Kalau saja mereka mengakui, maka mustahil gerakan separatis yang pernah teredam dihidupkan kembali yang menuai banyak protes, kritik, serta kerusakan di tubuh bangsa ini.

Asal penghidupan gerakan separatis tersebut dapat diklasifikasi menjadi faktor ekstern dan intern. Kedua faktor ini sangat berkaitan dan berhubungan erat. Faktor intern berasal dari dalam negara, yaitu adanya sebagian warga negara yang kecewa dengan pemerintahan dan beranggapan mereka bisa mendirikan negara sendiri karena mereka yakin mereka bisa menutupi kekecewaan mereka dengan melakukan hal tersebut. Karena syarat mendirikan negara ada 4, wilayah, bangsa, pemerintahan yang berdaulat, dan pengakuan dari negara lain, mereka mencari dukungan dari pihak lain. Maka masuklah faktor ekstern, yaitu dorongan kepentingan negara lain atau bisa juga bantuan pihak asing. Ekspektasi para pelaku gerakan separatis tersebut yaitu untuk sedini mungkin merealisasikan rancangan negara mereka.

Tetapi tidak selamanya bantuan dari pihak asing tidak mengganggu negara lain. Pergeseran tujuan awal pemberian bantuan tersebut bisa berubah yang mulanya untuk mendukung pendirian negara mandiri, tiba-tiba bantuan tersebut menjadi media untuk mengusik pertahanan keamanan, hingga merusak sistem politik, sosial, dan ekonomi suatu negara. Misalnya saja NII yang ingin memproklamirkan negara Islam menggunakan gerakan bawah tanah untuk memprovokasi masyarakat. Kemudian bersama-sama menggulingkan pemerintahan dan mendirikan negara Islam, dengan notabene lebih dari 80% penduduk Indonesia beragama Islam.

Keadaan strategis ini dicerna dengan baik oleh para penggagas NII, sehingga mereka memiliki semangat menggelora karena yakin akan berhasil. Baik GAM maupun NII, melakukan pengrekrutan anggota setelah mendapatkan korban yang termakan provokasi mereka. Masalah pelik yang terjadi yaitu masyarakat yang memiliki pengetahuan minim secara akademik dan agama sangat mudah percaya kepada orang yang mengenakan jubah dan sorban yang menggunakan ayat-ayat Al-Qur’an  untuk menghipnotis mereka agar bersedia bergabung. Disinilah keimanan diuji, dan sayangnya masyarakat belum siap. Para anggota baru disiapkan menjadi ‘pengantin’ yang siap mati demi jihad membela agama. Seperti yang terjadi kemarin di Masjid Polresta Cirebon, di saat shalat Jum’at, meledak bom yang melukai hampir seluruh jamaah dan menghancurkan bangunan masjid. Pelaku bom bunuh diri ikut menjadi jamaah shalat jum’at dan posisinya membelakangi kiblat. Modus baru terorisme muncul, tidak lagi hanya menghancurkan gereja, tetapi sudah merambah ke masjid saat ini. Terakhir ini, bom juga sudah meledakkan bangunan kelas sekolah! Anak bangsa juga turut diganggu proses belajarnya padahal tidak terlibat sedikitpun akan gerakan yang mereka rintis.

Jika benar untuk jihad membela agama, mengapa di saat ummat akan beribadah, ia meledakkan bom? Perbuatan yang sangat dzalim menghalangi siapapun untuk beribadah kepada Tuhannya. Jika ingin mati syahid, mengapa dengan ego sendiri meledakkan rumah ibadah dan mati dengan membelakangi kiblat? Mati sia-sia lah yang di dapat, sama dosanya dengan mati bunuh diri. Paham jihad yang keliru ini lah yang membahayakan, karena yang tidak berpengetahuan diberi asupan akan jihad yang salah. Mereka hanya korban dari ambisi orang-orang pintar dan menjadi konduktor yang sangat baik untuk mencapai tujuan mereka.

Sama seperti GAM yang ingin mendirikan negara Islam, semua yang menghalangi dibunuh. Negara Islam macam apa yang ingin mereka dirikan jika melalui baku tembak? Apalagi baku tembak itu banyak melukai warga yang tidak bersalah dan tidak tahu menahu akan gerakan mereka. Gerilya dilakukan jika terjadi penjajahan dan demi memerdekakan suatu negara, dan dilakukan secara massal, bukan kedaerahan. Islam masuk ke Indonesia dan dalam penyebarannya di seluruh dunia dengan cara damai, tanpa ada pemaksaan sedikitpun. Adalah salah jika mereka mendirikan negara Islam dengan baku tembak dan melakukannya di dalam wilayah suatu negara yang memang sudah merdeka serta diakreditasi oleh dunia internasional. Bukankah dilarang dalam agama manapun untuk mengambil hal yang bukan hak kita?

Terorisme beriring dengan gerakan separatis menjadi parasit yang harus dibumi hanguskan, karena mengancam keutuhan suatu negara serta memporak porandakan keadaan sosial, ekonomi, politik, dan hankam negara. Pihak yang berada dibelakang semua itu yang pada umumnya adalah negara asing yang menyuntikkan modal untuk mewujudkan negara Islam yang ingin mereka bentuk. Jika kita sibuk berperang padahal kita adalah satu bangsa, perlahan tapi pasti mereka akan menyusup ke dalam tubuh pemerintahan kita, melakukan politik adu domba sehingga kita bercerai berai dan mereka mengambil alih pemerintahan kita, dan akhirnya terwujudlah kolonialisasi modern.

Gerakan separatisme ditujukan untuk mendirikan negara mandiri tetapi menggunakan wilayah dan bangsa lain untuk menelurkan negara tersebut. Inilah awal mengapa gerakan separatisme harus di berantas karena merugikan negara lain. Gerakan separatisme juga akrab dengan terorisme. Mereka melancarkan teror baik melalui ancaman bahkan baku tembak melalui aksi terorisme ini. Secara harfiah, teror artinya mengganggu, maka terorisme memang ditujukan untuk mengusik dan mengganggu pihak lain. Terorisme saja sudah mengganggu, terbukti jika ada tersiar teror bom, maka tempat tujuan peledakan bom itu langsung kosong seketika. Apalagi jika terorisme diboncengi gerakan separatisme. Apa kata dunia jika kita satu bangsa perang saudara?

Sebagai warga negara kita berhak kecewa sebab pemerintahan tidak bisa memuaskan semua rakyatnya. Benar bahwa pemerintahan kita berkedaulatan rakyat dan harus mengutamakan rakyat. Tetapi kembali lagi bahwa tidak ada manusia yang sempurna di dunia ini. Pemerintahan dijalankan oleh manusia bukan? Para wakil dari setiap daerah yang telah dipilih rakyat berkumpul di pusat pemerintahan dan menjadi tonggak untuk menjalankan pondasi pemerintahan yang telah dibentuk. Kemajemukan kembali terjadi, tentu setiap wakil daerah memiliki aspirasi berbeda mengenai cara menjalankan pemerintahan karena mereka semua memiliki latar belakang yang berbeda tetapi dengan tujuan yang sama yaitu memakmurkan Indonesia. Jika kecewa menyergap perasaan kita, salurkan dengan cara yang sportif dan tidak merugikan orang lain.

Falsafah hidup kita sebagai bangsa Indonesia sudah ditetapkan berupa Pancasila. 5 sila yang berisi mengenai bagaimana hidup bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara. Ketika masalah menghampiri yang menyebabkan kekecewaan atau perasaan yang mengganggu, kita kembali ke pada sila ke- 4, yang intinya bermusyawarah untuk mendapatkan mufakat atau solusi sehingga masalah tadi terpecahkan. Kita juga jangan lupa akan sila ke-3 yaitu persatuan Indonesia. Menyikapi permasalahan konflik agama di Indonesia, secara sederhana kita kembali kepada sila pertama Pancasila, Ketuhanan Yang Maha Esa. Sangat kontras bahwa Pancasila sangat menghargai akan agama yang ada dan toleransi antar agama dijunjung tinggi.

Pancasila dicetuskan oleh Presiden Soekarno demi mengukuhkan bangsa ini. Keragaman bangsa kita tidak seharusnya menjadi media untuk memecah belah kita. Maka kita tidak boleh meninggakan bahkan menceraikan Pancasila sebagai falsafah hidup kita! Pancasila dimaksudkan untuk menjaga persatuan kita semua. Praktik tidak sama dengan teori, sangat tepat menggambarkan bangsa ini.  Tetapi praktik dapat di sinkronkan dengan teori bukan? Indonesia memiliki harta karun yang sangat mahal harganya, yaitu local genius yang artinya masyarakat Indonesia mampu menyaring budaya-budaya asing yang masuk dan menyesuaikannya dengan budaya yang ada di Indonesia. Barang tentu kemajemukan dan multikulturalisme bukanlah masalah baru tanpa solusi. Jas Merah, jangan sekali-sekali melupakan sejarah, begitulah ucap Bung Karno, menorehkan makna bahwa belajarlah dari sejarah agar tidak mengulangi kesalahan yang sama.

Presiden Susilo Bambang Yudhyono pada pidato kenegaraan dalam rangka memperingati Hari Pancasila, 1 Juni 2011 kemarin mengatakan bahwa Pancasila sudah lulus dari tantangan zaman selama 66 tahun. Undang-Undang Dasar 1945 saja sudah mengalami 4 kali amandemen. Hanya Pancasila yang tetap utuh dan lestari hingga saat ini. Bulan Juni dinobatkan menjadi Bulan Pancasila karena Pancasila di cetuskan oleh Bung Karno pada 1 Juni 1945. Setiap bulan Juni Pancasila dikumandangkan, dan kilas balik mengenai awal lahirnya pancasila selalu ditayangkan dan menjadi topik talkshow di televisi. Tetapi hendaknya euphoria Pancasila ini terjadi di setiap saat, tidak hanya di bulan Juni. Agenda bangsa kita sangat padat untuk meletakkan makna Pancasila di hati setiap warga negara Indonesia.

Mengenai korelasi konflik agama, keutuhan NKRI dan hukum di negara ini, berdasarkan Teori Lingkaran Konsentris Prof. Dr. H. Muhammad Tahir Azhary, S.H, bisa dijelaskan melalui 2 konsep pemikiran, yaitu pemikiran Barat dan pemikiran Islam. Menurut pemikiran barat, hukum dan negara merupakan hubungan dua komponen yang bebas dari pengaruh agama. Menurut pemikiran Islam yaitu agama, hukum, dan negara merupakan hubungan tiga komponen yang sangat erat dan merupakan satu kesatuan. Dalam lingkaran konsentris, negara menempati lingkaran terluar, hukum di lingkaran tengah, dan agama di lingkaran inti. Posisi negara yang berada di lingkaran terluar bermakna bahwa negara tidak ‘mengurung’ hukum dan agama. Konklusinya terhadap konflik agama di Indonesia adalah tidak seharusnya agama merusak tatanan negara dan mengganggu hukum yang telah ditetapkan.

Kedua pemikiran ini dapat diambil intisarinya yaitu agama adalah sesuatu yang dianut, bukan untuk dipaksakan. Penerapannya untuk Indonesia adalah agama merupakan bagian dari negara. Masyarakat yang berprinsip adalah masyarakat yang beragama, baik agama yang utuh maupun agama yang berupa aliran kepercayaan. secara hukum agama yang diakui hanya 6, yaitu Islam, Kristen Katolik, Kristen Protestan, Buddha, Hindu, dan Konghucu. Di negara eropa atau amerika atheis diperbolehkan sepanjang tidak mengusik warga lain maupun negara. Mereka juga memiliki budaya yang sangat tinggi untuk menghargai orang lain, maka mereka mampu melaksanakannya. Sementara di Indonesia yang berasaskan Pancasila, kita menjunjung tinggi agama seperti yang tercantum pada sila pertama Pancasila. Agama menjadi hal mutlak yang harus dimiliki setiap warga negara Indonesia. Dalam kasus ini, local genius masyarakat Indonesia kembali di uji, terkait dengan globalisasi yang sedang berlangsung sehingga bangsa asing dengan mudah masuk ke Indonesia. Aliran kepercayaan yang cukup banyak bersarang di Indonesia, Pulau Jawa khususnya, menjadi tantangan tersendiri bagi rakyat. Masyarakat harus cermat dan dituntut kritis menghadapi problema gejolak sosial ini agar tidak terjerumus ke jurang kehancuran. Agama sebagai jembatan menuju surga. Untuk apa tidak percaya Tuhan tetapi tetap mengharapkan masuk surga?

Tuhan memberikan perbedaan untuk menciptakan persatuan. Permintaan agregat rakyat Indonesia yang sesuai dan tunduk kepada hukum terhadap agama sangat tinggi bahkan menjadi kemutlakan. Kepemilikan akan agama adalah kebutuhan primer dan sangat asasi melebihi sandang, pangan, dan papan. Mengapa harus ada pertikaian padahal perdamaian menunggu di pelupuk mata? Agama bukan untuk dipaksakan tetapi untuk dimiliki dan menjadi panduan bagaimana berhubungan dengan Tuhan Pencipta Semesta Alam. Beragama mengarahkan hidup kepada kebaikan dan mengharapkan surga, bukan menjadikan kita terpecah belah.

Segala yang terjadi saat ini akan menjadi sejarah di kemudian hari. Kita harus mempelajari dengan seksama apa yang terjadi agar sejarah yang tercatat adalah sejarah yang benar, realistis, tanpa ada perubahan demi kepentingan siapapun. Transparansi biarlah menjadi bingkai pembuka tabir atas gejolak sosial yang terjadi. Mengulang sejarah yang sama adalah suatu kebodohan, begitulah kata pepatah bangsa Singapura. Sejarah hadir sebagai media pembelajaran dan guru, karena pengalaman adalah guru yang sangat berharga. Konflik agama sejatinya segelintir konflik kecil dari triliunan problematika yang ada, maka tidak perlu dibesar-besarkan apalagi di perpanjang.

Keberadaan terorisme, gerakan separatis, maupun hal-hal yang mengganggu keutuhan NKRI harus diberantas karena semua itu hanyalah benalu yang menghisap persatuan bangsa kita. Tidak perlu menghidupkan gerakan yang sudah mati, terutama untuk memisahkan kesatuan nusantara. Yang sebaiknya dibangkitkan adalah toleransi beragama dan menghidupkan keberadaan Pancasila di benak setiap warga negara Indonesia. Kontribusi setiap warga negara sangat di perlukan, kepedulian nasional menjadi kunci utama untuk memberantas benalu tersebut dan menjaga serta melestarikan Indonesia dan bangsa Indonesia.

Bhinneka Tunggal Ika harus tetap berdiri selama Indonesia masih lestari. Konflik yang terjadi hendaknya dijadikan perekat bangsa dan negara. Jangan biarkan paras pertiwi terlalu lama meneteskan air mata dan pertumpahan darah di tubuh bangsa. Bhinneka Tunggal Ika harus jaya! Tidak lagi berduka.

 

Tirta Priambadha, 17 Juni 2011

  1. No comments yet.
  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: