Home > Resume si tirta priambadha > Kepemimpinan Profetik

Kepemimpinan Profetik

Kepemimpinan profetik adalah kepemimpinan yang membebaskan penghambaan kepada manusia hanya kepada Allah semata. Kepemimpinan profetik dapat kita pelajari dan analisa dari kisah kepemimpinan Nabi-Nabi dalam Al Qur’an. Mengutip konsep Alm. Prof. Dr. Kuntowijoyo tentang kepemimpinan profetik yang berdasarkan pemahaman Al Qur’an surat Ali-Imran ayat 110 yang mempunyai arti : “Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma’ruf, dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah. Sekiranya Ahli Kitab beriman, tentulah itu lebih baik bagi mereka; di antara mereka ada yang beriman dan kebanyakan mereka adalah orang-orang yang fasik. “ maka dapat disimpulkan bahwa kepemimpinan profetik adalah kepemimpinan yang membawa misi humanisasi, liberasi, dan transendensi.

Kepemimpinan profetik yang pertama adalah misi humanisasi, yaitu misi yang memanusiakan manusia. Pada tahap ini sangat mudah dalam menerapkannya. Karena untuk memanusiakan manusia, kita hanya perlu berbuat baik ke sesama manusia itu sendiri. Dengan melakukan hal itu, maka dengan sendirinya misi humanisasi ini dapat terwujud.

Kepemimpinan profetik yang kedua adalah  liberasi, yaitu misi membebaskan diri dari belenggu keterpurukan. Sebagai pemimpin kita harus mampu melepaskan diri dari keterpurukan yang telah terjadi akibat kesalahan-kesalahan di masa lalu. Yang nantinya secara perlahan merubah dan menjadikannya seorang pribadi atau manusia yang lebih baik.

Kepemimpinan profetik yang ketiga adalah misi transendensi, yaitu manifestasi dari misi humanisasi dan liberasi yang diartikan sebagai kesadaran ilahiyah yang mampu menggerakkan hati dan bersikap ikhlas terhadap segala yang telah dilakukan.

Ciri kepemimpinan profetik yang pertama ialah “Sang Pemimpin” harus memiliki visi dan misi ke-Illahiyahan yang kuat dalam bekerja menjalankan amanahnya. Tanpa visi dan misi ke-Illahiyahan yang kuat, keberhasilan seorang pemimpin adalah keberhasilan semu, kesuksesan sementara yang tidak akan meninggalkan kesan dan pengaruh yang kuat untuk generasi penerusnya.

Ciri kepemimpinan profetik yang kedua ialah seorang pemimpin profetik haruslah seorang yang mempunyai ilmu. Ilmu di sini adalah ilmu pengetahuan dan hikmah yang menjadikan dirinya mampu memutuskan kebijakan yang tepat. Ilmu yang dalam akan mencegah seorang pemimpin dari tindakan tergesa-gesa, sikap emosional, dan tidak sabar.

Sedangkan, ciri kepemimpinan profetik yang ketiga ialah seorang pemimpin profetik harus memiliki kekuatan ketika ia memegang amanah kepemimpinan. Kepemimpinan tidak boleh diserahkan kepada orang-orang yang lemah.

Selanjutnya, seorang pemimpin profetik juga harus seorang yang amanah. Orang yang memiliki kredibilitas dan integritas yang tinggi, yang dapat dipercaya oleh masyarakatnya.

Kriteria pemimpin profetik yang kelima adalah memiliki daya regenerasi atau seorang yang mampu mewariskan sifat-sifat kepemimpinan profetiknya. Jangan sampai anak cucu kita hanya menjadi anak cucu biologis dari kita, tetapi bukan anak ideologis kita. Pemimpin profetik hanya puas ketika mereka dapat melahirkan generasi penerus yang lebih baik dibandingkan dengan era mereka. Karena mereka percaya bahwa pemimpin itu tidak secara langsung diciptakan, namun seorang pemimpin yang baik itu ialah orang-orang yang telah didesain, terencana rapih dan bagian dari rencana besar pembentukan peradaban. Kesemuanya itu dilandasi ketaqwaan yang merupakan karakteristik keenam yang penting dimiliki seorang pemimpin maupun penguasa.

Dalam kenyataanya mahasiswa dapat dimasukkan ke topologi yang dibedakan menjadi beberapa golongan. Golongan ini membentuk sebuah piramida, dimana semakin tinggi tingkatannya maka semakin sedikit orang yang masuk ke dalam golongan tersebut. Pada tingkatan dasar terdapat Mahasiswa Biasa yang hanya kuliah-pulang dan kuliah-pulang. Selanjutnya ada Mahasiswa Organisatoris, mahasiswa golongan ini sudah memiliki kesadaran untuk berkontribusi di ormawa. Di tingkatan ketiga terdapat Mahasiswa Konseptor, dimana mahasiswa yang termasuk golongan ini ialah mahasiswa yang menjadi otak untuk menggerakkan atau menjalankan sebuah pergerakan mahasiswa. Pada tingkatan puncak terdapat Mahasiswa Ideolog, mahasiswa golongan ini mempunyai idealisme atau ideologi yang tinggi. Idealisme ini mampu mendasari pergerakan serta keyakinan mahasiswa lainnya.

Tirta Priambadha, 1 September 2010

  1. No comments yet.
  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: